Review Film Psikologi Hari Ini: Joker: Folie à Deux (2024)
Sebelum nonton ini, aku nonton dulu film Joker di tahun 2019 lalu. Tujuannya tentu untuk menyegarkan kembali ingatanku yang sudah mulai buram tentang Joker. Ohiya, review ini mengandung spoiler. Mohon jangan meneruskan kalau belum nonton, ya!
Seperti biasa, aku nggak akan mereview dari segi kayak pengambilan gambar, akting aktor aktrisnya dan sebagainya, karena aku akan lebih fokus membahas tentang sisi sisi psikologis dari film ini. Sepanjang menonton film, sepertinya film ini mengingatkanku pada film La La Land (2016) karena nyaris full musikal. Aku jujur agak bosen, karena memang bukan pecinta musikal. Ohiya, since foto-foto yang di film Joker 2024 ini belum banyak rilis, beberapa aku pakai yang dari film Joker sebelumnya ya. Oke, here we go.
1. Gak harus selalu bahagia dan senang itu nggak apa-apa
Cukup sedih ketika merangkum hal-hal apa saja yang dialami Joker mulai dari film Joker 2019 sampai Joker terbaru ini. Mari kita list.
Mulai dari film Joker 2019:
Dia dianggap pecundang sama orang-orang sampai dia yang dipukulin sama anak-anak bandel di gang sepi, disuruh mengembalikan papan kalau nggak gajinya dipotong, dipecat karena difitnah rekan kerjanya, dipukulin lagi gara-gara dia ketawa pas di kereta bawah tanah, syok gara-gara surat ibunya yang bilang kalau dia anaknya Thomas Wayne tapi berujung pada kepalang malu ketika mengetahui bahwa ternyata benar kalau ibunya yang "halusinasi" alias delulu kalau bahasa gen alpha jaman sekarang.
![]() |
sumber: antaranews.com |
Scene dimana dia ke rumah sakit jiwa dan mencuri berkas ibunya itu sedih banget si aku. Dia baca semua keterangan mulai dari ternyata dia ini anak angkat (yang berarti dia gatau ibu dan ayah kandungnya siapa dan dimana), ibunya yang mengalami masalah mental dan mengalami abusive, terus ternyata dia juga mengalami kekerasan serta pelecehan oleh kekasih ibunya, bahkan sampai diikat di radiator, hingga gongnya adalah dia mengalami cedera otak. Dia sampai memastikan lagi dengan masuk ke kamar apartemen cewek di kamar lain yang ternyata... dia sendirinya juga halu. Halu pernah kencan, ditemenin pas di rumah sakit sewaktu ibunya dirawat, dll.
Awalnya aku mengira halunya Arthut itu diturunkan secara genetik, karena ibunya juga agak halu. Akan tetapi ketika tahu bahwa hubungan keduanya adalah ibu dan anak angkat, maka halu nya Arthur ini sepertinya lebih pas disebabkan karena kekerasan yang dialami dan juga cedera otak .
Sampai Joker 2024:
Diperlakukan cukup kasar oleh petugas di rumah sakit jiwa Arhkam, nggak dikasih payung pas berjalan melewati hujan, ketika menemui konselornya (ini aku sedih banget ketika si penjaga bangsal itu juga ikut ngeremehin si konselornya, kayak...ih gak berkemanusiaan banget).
![]() |
sumber: kincir.com/ |
Pas di persidangan, itu cewek yang di apartemen muncul lagi memberikan kesaksian. Hal yang bikin miris adalah si cewek itu menyampaikan kesaksian dari POV ibunya Arthur yang bilang kalau ibunya sengaja mengarang latar belakang dimana Arthur ini dilahirkan untuk membuat orang lain bahagia, supaya dia gak terlalu merasa buruk tentang dirinya.
Belum lagi ketika awalnya dibuat berbunga-bunga oleh Lee, tiba-tiba ditinggalin gitu aja ketika Arthur mengumumkan bahwa nggak ada lagi Joker dalam dirinya. Bahkan gak cuma Lee, tapi juga "pendukung-pendukung" nya di pengadilan.
Terakhir tentu saja ketika dia ditikam sama "unknown man" yang sebenernya disorot di beberapa scene film (katanya sih ini baru Joker yang kita tahu ada di DC universe dan lawannya bruce wayne alias batman)
Mensugesti pikiran kita untuk tetap ceria memang terkadang akan membuat mood kita juga ikutan bahagia. Akan tetapi kalau kita mau mengikuti emosi kita yang sebenarnya kita rasakan saat itu, juga nggak apa-apa. Mau nangis ketika merasa sedih, boleh. Mau marah ketika kesal dengan sesuatu hal, monggo aja.
2. Kekerasan pada anak/melihat kekerasan bisa meninggalkan trauma
Sebenernya ini lebih terkait sama film Joker 2019, namun melihat output Arthur hingga di filmnya yang terbaru ini, nggak lepas dari apa yang dialaminya saat masih anak-anak.
Mengalami maupun hanya melihat kekerasan akan bisa meninggalkan trauma pada anak. Orang dewasa saja bisa trauma, apalagi anak-anak?
Nggak bisa ngebayangin ketika Arthur mengingat kembali peristiwa dimana dia mengalami kekerasan oleh ibu dan juga kekasih ibunya. Kemudian penjelasan mengenai Arthur yang diikat di radiator, dipukul hingga akhirnya mengalami cedera otak. Bahkan ada beberapa penjelasan dimana katanya Arthur juga mengalami pelecehan.
Nggak hanya Arthur, ibu Arthur sepertinya juga menjadi korban dalam hubungannya. Ibunya juga mengalami kekerasan oleh kekasihnya. Arthur kecil yang melihat ibunya dipukuli oleh orang yang seharusnya mengasihinya, gimana rasanya?
![]() |
sumber: superherohype.com |
Arthur mengalami beberapa kekerasan, bahkan salah satunya adalah pengabaian oleh ibunya. Pengabaian juga masuk ke dalam kekerasan, lho. Pengabaian adalah tindakan dengan sengaja tidak memperdulikan kondisi dan kesejahteraan seseorang, dalam hal ini adalah anak.
Arthur kecil yang katanya tinggal di apartemen yang kotor milik ibunya, bahkan ibunya berkata kalau dia nggak denger ketika Arthur kecil menangis akibat kekerasan yang dialaminya? How it could be? Pengabaian fisik seperti nggak menyediakan lingkungan yang bersih dan nyaman untuk anak, plus pengabaian psikologis dimana harusnya ibunya bisa menolong dia. Eh, apa jangan-jangan ibunya nggak bisa menolong karena takut sama kekasihnya?
Pesanku untuk kamu yang mau cari kekasih. Kata-kata bahwa "anak tidak bisa memilih ayahnya (baik kandung ataupun enggak)" sepertinya benar adanya. Cari pasangan yang nggak redflag karena yang rugi gak hanya kamu, tapi juga anakmu. Tentu saja karena kamu pasangannya. Kamu yang memilih, bukan?
3. Bangsal-bangsal rumah sakit jiwa
Ada scene dimana si Arthur ini diperbolehkan untuk menjajal masuk ke bangsal dengan minimum penjagaan dan masuk ke kelas musik. Di dalamnya, si pemandu musiknya memperkenalkan Arthur sebagai penghuni bangsal E (kalau gak salah?), dimana hari itu dia bergabung ke "kelas" musik karena menjadi panutan alias maybe berkelakuan baik selama di bangsalnya. Yup, jadi si Arthur ini "main" ke bangsalnya si Lee. Kalau dilihat-lihat, ada semacam vibes yang berbeda di antara dua bangsal itu ya? Bangsal Arthur sangat "abu-abu" dengan banyaknya pagar yang diberi perlindungan ekstra, sementara di bangsal Lee seperti rumah sakit biasa yang banyak ventilasi dan sinar mentari yang hangat bisa masuk melalui sela-selanya.
![]() |
sumber: rep-am.com |
Jadi, sebagai seorang mahasiswa psikologi yang pernah berkesempatan untuk masuk ke dalam rumah sakit jiwa dan juga dinas sosial, memang seperti itu keadaannya. Setiap orang akan ditempatkan pada bangsal yang berbeda-beda, bergantung pada tingkat "keparahan" nya. Semua sama, kecuali perlakuan. Kalau di kenyataannya, semua tetap diperlakukan dengan baik oleh perawatnya meski itu dari bangsal yang seperti bangsalnya Arthur. Yah, meskipun untuk yang di bangsal seperti Arthur, perawat memang agak lebih keras dan disiplin karena memang yang dihadapi adalah orang yang memiliki gangguan, yang bisa saja melukai dirinya sendiri atau orang lain seperti sesama pasien atau petugas, dan sangat berpotensi untuk kabur. Meski gak se ekstrim yang ada di film, ya.
4. Cedera otak dan gangguan mental
Orang dengan gangguan mental punya gejala yang bermacam-macam, yang salah satunya bisa dilihat melalui tingkah lakunya. Sama seperti ketika seseorang memiliki cacat secara fisik seperti buta maupun tuna daksa (anggota tubuh nggak lengkap). Arthur ini kan diceritakan ada cedera otak akibat kekerasan yang dialaminya saat kecil. Cedera otak ini lebih spesifiknya sepertinya menyerang syarafnya, sehingga respon yang diberikan ketika dia merasakan sesuatu jadi nggak sinkron.
Yup, otak itu memegang peranan penting, yang apabila otak kita gak berfungsi dengan baik, maka akan berdampak pada output-nya yaitu perilaku kita. Dalam dunia psikologi, ada kategori gangguan mental yang disebabkan karena adanya cedera atau gangguan pada otak kita, contohnya seperti skizofrenia, depresi dan bipolar, Obsessive Compulsive disorder (OCD), dan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Cedera yang dimaksud ini gak hanya cedera dalam hal fisiknya otak seperti misalnya nih kayak otak kita tiba hilang separuh, tapi juga unsur kimiawi yang berjalan di dalamnya. Jadi meskipun otak kita baik-baik saja (ukuran sesuai, utuh, dll), tapi kalau unsur kimiawi di dalam otak kita kurang/berlebih/gak berjalan semestinya, akan menimbulkan gangguan.
Jadi keinget beberapa scene di film Joker 2019 kayak pas dia di bis, stand up comedy di cafe, atau kereta bawah tanah. Kayaknya dia akan tertawa ketika lagi "ketrigger" oleh suatu keadaan seperti gugup. Beberapa kali orang lain juga "salah tangkap" atas tertawaan si Arthur.
![]() |
sumber:imdb.com |
Sebagian dari mereka tersinggung dengan apa yang dilakukan Arthur. Arthur sampai bawa kartu yang tulisannya menjelaskan bahwa dia ada cedera otak (yang ada di film Joker 2019, adegan di bis pas dia lagi ngelucu anak orang). Kalau di film Joker 2024 ini seingetku dia ketawa pas lagi di pengadilan. Kurasa saat itu dia juga sedang gugup, akhirnya muncullah tertawaannya itu.
![]() |
sumber: openspace.sfmoma.org |
Suddenly jadi merenung, mungkin di luar sana juga banyak orang dengan gangguan mental yang memunculkan perilaku khas mereka, yang mungkin nggak dipahami oleh orang lain dan berakhir dengan tersinggung dan perkelahian :(
5. Arthur vs Joker, kepribadian ganda, dan pengadilan
Pada adegan di pengadilan, aku ikut tegang sekaligus belajar. Siapa tahu suatu saat aku di posisi si konselornya Arthur, yang harus memperjuangkannya supaya dia gak dihukum, dengan memberikan pembelaan bahwa Arthur ini mengalami gangguan mental yaitu kepribadian ganda. Beberapa kali ada kalimat seperti "apakah benar kamu yang melakukan? apakah sisi lainmu yang melakukan?" atau ketika dihadirkan saksi saksi dalam persidangan, mereka selalu memastikan "apakah orang yang melakukan pembunuhan/masuk ke apartemenmu adalah orang yang sama? atau apakah orang itu ada disini?"
Kepribadian ganda ini adalah salah satu gangguan mental dimana pengidapnya memiliki dua bahkan lebih dari satu kepribadian, dimana setiap kepribadiannya memiliki karakter yang berbeda-beda. Kalau di diagnosa psikologi namanya dissociative identity disorder (DID) atau multiple personality disorder. Karakternya tuh benar-benar beda kayak usia, gender, suara, bahkan ingatan. Yup, meskipun kepala dan otak kita satu, tapi memori antar kepribadian itu nggak bisa bergabung. Jadi kayak ingatan pada kepribadian A, nggak bisa diingat oleh kepribadian B. Semacam ada amnesia diantara kepribadian-kepribadian ini.
Pertanyaan umum yang sering aku dapatkan itu, kepribadian ini muncul dengan sendirinya atau dibuat-buat oleh pengidapnya? Jawabannya adalah enggak ya ges. Kepribadian ini muncul sebagai respons pengidap atas trauma berat yang dialaminya di masa kanak-kanak, seperti pelecehan fisik, seksual, atau emosional. "Pergantian" kepribadian ini kadang nggak disadari oleh "pemilik aslinya", dan terkadang langsung beralih gitu aja apabila dihadapkan pada situasi yang memicu stres atau trauma tersebut.
![]() |
sumber: koimoi.com |
Memang akan ada segelintir orang yang memanfaatkan diagnosa ini supaya terhindar dari masalah hukum. Akan tetapi gangguan ini didukung oleh pemeriksaan neurologis serta psikologis. Kalau nggak terbukti alias mengada-ada, tetep kena hukum ya ges. Kalau kamu tertarik dengan gangguan ini, ada beberapa film yang mengangkat isu ini kayak film Split (2016) atau kalau film indonesia itu Belahan Jiwa (2005) yang sempat ku review juga disini. Di film ini kenapa sih keputusan soal ini sangat penting banget untuk Arthur?
Pernah dengar nggak? ketika seseorang melakukan kejahatan biasanya akan dilakukan tes psikologi untuk memastikan bahwa orang tersebut sadar penuh akan perbuatannya. Ketika orang itu sadar penuh akan perbuatannya, maka dia juga bisa dimintai pertanggungjawaban atas perilakunya tersebut. Tentu saja orang itu akan dihukum misalnya denda, penjara seumur hidup, atau hukuman mati.
![]() |
sumber: bbc.com |
Apabila Arthur didiagnosa dengan kepribadian ganda, maka Arthur bisa jadi nggak dihukum. Anggapannya karena kepribadian asli Arthur nggak tahu menahu soal apa yang dilakukan oleh kepribadian "Joker" terhadap orang-orang yang dibunuhnya. Intinya dilakukan tanpa sadar oleh Arthur, sehingga Arthur ini nggak bisa dimintai pertanggungjawaban kayak dihukum mati. Dia akan dialihkan ke lembaga sosial yang lebih layak untuk merawat kondisi psikologis dia. Dia aja nggak tahu yang dia perbuat itu benar atau salah, gimana mau mempertanggungjawabkan perbuatannya?
Kalau di filmnya sih keputusan finalnya adalah dia gak mengalami gangguan mental kepribadian ganda itu. Kalau menurut kamu gimana?
6. Mencintai seseorang itu termasuk menerima sisi kuat lemahnya dia
Di film ini ceritanya Arthur "Joker" ketemu sama Lee, seorang wanita di bangsal yang berbeda, yang katanya dibawa ke RSJ karena membakar apartemen keluarganya. Lee begitu supportif kepada Joker yang awalnya bikin aneh karena... baru kenal, apa karena fans berat ya? Bahkan ketika Lee katanya keluar lebih dulu dan melipir ke bangsal isolasi Arthur and doing 'something' in the dark. Kesannya kayak, kenapa membara sekali sepertinya orang ini?
![]() |
sumber: thepinknews.com |
Menjelang akhir ketika di persidangan, tepatnya ketika Arthur berkata nggak ada lagi Joker, Lee menunjukkan kekecewaan dan lantas pergi, disusul beberapa orang yang sepertinya "fans" Joker. Adegan di tangga iconic itu pada akhirnya menjelaskan semuanya. Lee sepertinya hanya jatuh cinta membara pada karakter "Joker" pada diri Arthur. Joker nampak seperti karakter yang kuat, sadis, nggak takut apapun, and a little bit crazy. Ternyata karakter itulah yang disukai oleh Lee. Sementara Lee sepertinya nggak begitu tertarik pada Arthur yang lemah, memiliki gangguan cedera pada otak, dan punya history menyedihkan dalam hidupnya.
![]() |
sumber: philstar.com |
Betapa sedih ketika kamu tahu bahwa seseorang mencintai satu sisi dirimu saja, ketimbang menerima seutuhnya. Bayangkan ketika kamu punya kekasih yang menemani ketika kamu sedang berjaya, tapi mencampakkan kamu ketika kamu lagi apes. Hiks.
Mencintai seseorang itu seharusnya memang menerima sisi kuat lemahnya dia. Kuat lemah dia disini berbicara tentang spektrum seperti contohnya dia orang yang tegas dan berani vs pemalu dan sensitif. Kalau soal sisi negatif, selama kamu bisa menerima dengan segala konsekuensinya, ya monggo aja. Saranku pastikan sisi negatifnya itu bukan sesuatu yang kriminal, contoh berjudi dan narkoba. Dua hal ini adalah sesuatu yang harus orangnya sendiri yang meniatkan untuk berhenti dan butuh support system yang sangat kencang untuk mereka. Kalau kamu ngga kuat, mending mundur saja. Aku, termasuk yang akan mundur hehehe
Kembali ke film. Melihat betapa hancur hati Arthur, bikin aku agak iba. Kayak, selama ini dia diperlakukan nggak baik sama orang, dianggap nggak ada dan nggak penting. Sekalinya ada orang yang menunjukkan rasa tertarik, langsung bikin sakit sesakit-sakitnya. Bener-bener langsung ditinggalin sama Lee, hanya karena dia sudah nggak mau lagi jadi sosok "Joker". Nggak hanya Lee, melihat para "fans" pergi satu per satu dari ruang persidangan, membuatnya mungkin juga berpikir bahwa orang orang hanya mencintai sosok "Joker", dan sosok Arthur tetap berada di balik layar. Poor, Arthur :(
Itu dia beberapa review dari sisi psikologis dari film Joker: Folie à Deux. Ohiya, katanya Joker yang kita tonton disini, nggak sama dengan Joker yang muncul di film-film DC dan bukan musuh batman. Menurut kamu gimana?
Komentar
Posting Komentar